Berobat Gratis di Cianjur

Berobat Gratis di Cianjur

Yusuf Nugraha Dokter Kampung Bertarif Botol Plastik

JAKARTA — Menjadi dokter di rumah sakit terkemuka atau membuka praktik sendiri menjadi impian bagi para lulusan fakultas kedokteran. Tak banyak dokter yang mau mengabdikan diri di kampung.

Akan tetapi cerita tersebut tak berlaku dengan Yusuf Nugraha. Setelah mengenyam pendidikan kedokteran selama 7 tahun di Universitas Ahmad Yani, Bandung, Jawa Barat, dan menjalani praktik kedokteran di Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), Yusuf langsung balik kampung.

Yusuf ingin berbuat sesuatu untuk tempat kelahirannya, Desa Sukasari, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Di sana masih banyak warga yang kurang mampu sehingga sering kesulitan berobat karena keterbatasan biaya.

Pada tahun 2008, walau hanya memiliki modal Rp700 ribu, Yusuf memberanikan diri untuk mendirikan klinik yang diberi nama Harapan Sehat. Nekat memang, tapi seperti penamaan klinik itu, tindakan Yusuf ini serta-merta membuka harapan warga untuk hidup lebih sehat.

Terlebih lagi Yusuf juga memutuskan untuk merealisasikan angan-angannya. Sejak keinginan membuka klinik di kampung halaman itu ada dalam pikirannya, terbersit pula keinginan buat membebaskan biaya pengobatan kepada para pasien.

Niat itu direalisasikannya lewat satu program yang kini mulai dikenal masyarakat di sekitarnya dengan penyebutan pengobatan gratis tanpa syarat. Program tersebut khusus menyasar kalangan tak mampu yang tak tercatat dalam Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) ataupun Kartu Indonesia Sehat (KIS).

“Konsep awalnya saya buka klinik yang bisa membantu masyarakat sekitar. Klinik yang tanpa terkendala biaya,” kata Yusuf kepada Validnews.

Namun kata gratis itu tak membuat kliniknya mendadak ramai. Di masa-masa awal kliniknya malah sepi pasien. Setelah mencari tahu penyebabnya, Yusuf akhirnya mengerti meski memiliki ekonomi terbatas, mayoritas masyarakat di sekitar klinik tidak mau disamakan dengan warga miskin.

Menghadapi situasi ini, Yusuf putar otak. Dia mencari cara agar masyarakat tidak tersinggung dan kliniknya tetap dapat beroperasi.

Hingga akhirnya muncul ide dari para pasien yang tengah berobat. Mereka menyarankan agar botol plastik dipakai sebagai alat transaksi untuk mengakses layanan kesehatan.

Karena setuju dengan ide ini, sejak saat itu Yusuf memberlakukan pembayaran 10 botol plastik. Sepuluh botol plastik ditukarkan dengan satu voucher untuk berobat gratis. Bagi warga, metode pembayaran ini merupakan jalan keluar terbaik seiring keadaan mereka yang sering kesulitan biaya berobat.

Menurut pria kelahiran 1981 tersebut, ada dua manfaat yang dihasilkan dari program ini. Pertama turut menjaga kebersihan dan mengurangi kerusakan lingkungan yang ditimbulkan dari tumpukan sampah botol plastik. Kedua merangsang masyarakat sekitar untuk berobat ke klinik jika sakit.

“Kami tidak sendiri, kami bekerja sama dengan para pengepul untuk menyimpan botol plastik karena program ini erat kaitannya dengan lingkungan,” ucapnya.

Ide ini dengan cepat diterima oleh masyarakat sekitar. Masyarakat begitu antusias pergi ke klinik. Dari awalnya Yusuf hanya bisa mengumpulkan 30 botol plastik per hari, kini pendapatannya melonjak 10 kali lipat menjadi 350 botol per hari.

Selama tiga tahun program berjalan, bahkan sudah terkumpul sekitar 185 ribu botol plastik hasil penukaran dengan voucher berobat.

“Sekarang, setiap harinya tidak kurang dari 30 pasien datang ke klinik untuk berobat. Semuanya merupakan warga kurang mampu yang benar-benar memanfaatkan voucherlayanan gratis, dengan menukar 10 botol,” kata Yusuf.

Seni Bersedekah
Program yang dijalankan Yusuf tak sebatas barter botol plastik.  Melihat warga sekitar yang mayoritas muslim, Yusuf juga membuat program yang membantu meringankan beban masyarakat sekitar. Salah satunya dengan program mengaji satu juz.

Yusuf menuturkan, untuk pembacaan satu juz Alquran, tidak diharuskan si pasien yang melakukannya. Tetapi, dapat diwakilkan oleh keluarga atau kerabat pasien itu. “Dalam sehari pasien yang datang bisa mencapai 15 hingga 20 orang, dan mereka cukup membayar hanya dengan membaca satu juz Alquran,” tuturnya.

Semua aktivitas sosial kemasyarakatan yang dia lakoni berlandaskan sebuah hadis. Yusuf teringat sebuah hadis yang berbunyi, “Barang siapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin maka  Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari kiamat. Barang siapa yang memudahkan orang yang kesulitan (dalam hutang) maka Allah memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat”.

“Inspirasi kita dari sana,” ujar dia.

Hadis itulah yang terus mematri tekadnya. Menariknya, meski pembayaran biaya kesehatan itu menggunakan bacaan Alquran dan botol bekas plastik, setiap bulannya, Klinik Harapan Sehat justru tak pernah rugi.

“Alhamdulillah, selama ini saya tidak pernah rugi dengan program seperti itu. Malah berkah saya semakin banyak,” kata dia.

Yusuf juga tak menutup pintu bagi pasien yang nonmuslim. Apabila ada mereka yang ingin mendapatkan pengobatan secara gratis, dirinya melakukan kerja sama dengan komunitas gereja.

Selain program itu, Yusuf turut mengembangkan program lain berupa klinik berbagi makanan dan pakaian layak pakai untuk tunawisma. “Untuk generasi muda ada program klinik untuk mencegah bahaya narkotika dan seks bebas,” ucap dia.

Klinik yang diberi nama Harapan Sehat ini juga melakukan kegiatan berbagi nasi dan pakaian laik pakai setiap malam Jumat. Sasarannya adalah warga yang sering beraktivitas di malam hari dan para tuna wisma yang kebetulan ditemukan di jalan.

“Kami keliling bawa nasi dan lauk lalu dibagikan, nasinya bisa dari donatur yang dititipkan di sini,” ujarnya.

Selain itu dirinya juga menginisiasi program bedah kampung kumuh menjadi kampung sehat. Sebanyak 74 rumah kumuh di Kampung Pagutan Desa Sukakerta, Kecamatan Cilaku disulap menjadi kampung sehat warna-warni.

Ide ini muncul karena ada gagasan lebih baik mencegah daripada mengobati. Kebetulan kampung ini sebelumnya dinilai kumuh, sehingga diubah dengan mengecat dan membangun serta menata.

Menurutnya, sejak ide ini tercetus maka konsep kampung sehat pun mulai diterapkan di masyarakat. Mulai dari edukasi promosi kesehatan, mendirikan tempat pengobatan gratis, dan pembinaan lingkungan tentang kesehatan.

Atas inisiasi program ini klinik di dekat pertigaan Cilaku-Warungkondang tepatnya di Desa Sukasari, Kecamatan Cilaku ini mendapat beberapa penghargaan. Di antaranya klinik terbaik se-Kabupaten Cianjur, mewakili Cianjur tingkat Jawa Barat, dan saat ini mewakili Jawa Barat untuk tingkat nasional.

Kegelisahan Yusuf pada kesehatan warga ini bukanlah tanpa dasar. Yusuf lahir dari keluarga tak mampu dan mengingat betul betapa susahnya kala menimba ilmu. Selain itu yang paling ditakuti keluarganya adalah sakit. Karena pada saat itu untuk biaya sehari-hari saja ia dan keluarga harus bersusah payah untuk mencukupinya.

Dia bercerita, untuk membiayai dirinya kuliah di fakultas kedokteran sang ibu rela untuk menggadaikan sertifikat rumah. Maklum saja karena sejak Yusuf kecil orang tuanya sudah berpisah. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, ibunya hanya mengandalkan penghasilan menjadi seorang guru.

“Saat sekolah, saya harus menjual beras untuk ongkos sekolah sehingga saya tahu betul masyarakat di wilayah saya, kondisi orang tidak mampu semacam itu,” ujar dia. (Fuad Rizky)

Sumber: www.validnews.co

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *